Kajian Dampak Banjir Garut Terhadap Perempuan Pelaku Usaha Mikro Kecil

kajian-perempuan-pelaku-usaha-paska-banjir-garutAksara – Paska banjir Garut, Aksara bersama Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Garut dan Garut Government Wacth (GGW) melakukan kajian dampak banjir terhadap Usaha Mikro Kecil (UMK) yang dilakukan perempuan di wilayah terdampak. Kajian yang didukung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) ini dilakukan selama satu minggu. Bertujuan untuk melihat dampak banjir terhadap keberlangsungan usaha, serta apa saja yang sudah dilakukan berbagai pihak untuk merespon kebutuhan agar usaha mereka kembali berjalan.

Kajian dilakukan mulai Selasa (15/11/2016) sampai Jumat (19/11/2016) di 2 kecamatan yang paling terdampak, yaitu Kecamatan Garut kota dan Tarogong Kidul. Wawancara dilakukan terhadap para perempuan pelaku usaha baik yang saat ini masih di pengungsian maupun yang tidak mengungsi sama sekali.

Dari target awal, yakni melakukan wawancara terhadap 400-an perempuan pelaku UMK berkembang menjadi hampir 600 perempuan pelaku usaha yang rata-rata adalah pelaku usaha di bidang kuliner. Selanjutnya data hasil wawancara masih aka di validasi dan analisis untuk mendapatkan gambaran dampak yang sesungguhnya terjadi pada perempuan pelaku usaha di wilayah terdampak.

Dari diskusi awal temuan diungkapkan beberapa hal yang menarik mengenai kondisi perempuan pelaku usaha di wilayah terdampak, seperti yang di ungkapkan oleh Sekcab KPI Garut, Risnawati. Menurut Risna sampai saat ini perempuan pelaku usaha belum sama sekali tersentuh dan mendapat bantuan dari pihak manapun.
“Rata-rata bantuan datang berupa logistik,” Kata Risnawati dalam diskusi temuan awal, Jumat (19/11/2016) Malam.
“Pemerintah melalui dinas terkait juga belum punya rencana yang pasti” imbuhnya.

Sementara ditempat yang sama, Gabriela Pipit Lina atau yang lebih akrab di panggil Pipit, dari Aksara selaku Program Manager juga mengungkapkan adanya Fenomena jerat utang pada perempuan pelaku usaha di wilayah terdampak.
“Ada temuan di lapangan, banyak perempuan pelaku usaha yang berhutang pada Koperasi simpan pinjam dan MBK (Mitra Bisnis Keluarga),” katanya.
“Bunganya itu cukup tinggi, 25 – 30% ” terangnya.

Masih menurut Pipit, jerat utang ini menyulitkan perempuan pelaku usaha untuk bangkit. Karena pada kondisi saat ini usaha mereka belum pulih tetapi kewajiban membayar hutang tetap jalan. Sementara sampai saat ini Tim kajian yang terdiri dari Aksara, KPI Garut dan GGW masih melanjutkan kajian dan analisis data untuk menyusun rekomendasi. (Aksara)