Menolak Pasrah

COVER BUKU MENOLAK PASRAHBencana telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita, seiring meningkatnya kejadian-kejadian bencana, baik bencana alam (natural disaster) maupun bencana karena ulah manusia (man-made disaster). Bencana telah mengakibatkan kehilangan nyawa, kerusakan dan kerugian yang tidak sedikit, dan Asia Pasifik adalah kawasan dengan dampak bencana terbesar karena 50% kejadian bencana terjadi di kawasan padat populasi ini (UNESCAP, 2010). Begitupun Indonesia, yang tahun 2005 menempati peringkat ke-7 dari sejumlah negara yang paling banyak dilanda bencana alam. Dari pengalaman berbagai bencana, profilnya menunjukkan bahwa distribusi kerentanan dan dampak bencana, adalah wajah lain dari kegagalan pembangunan.

World Disaster Report 2007 menyebutkan, bahwa kesenjangan gender sudah ada sebelum bencana, namun menguat dalam situasi krisis/ bencana dan menjadi lebih buruk dalam masa pemulihan bencana karena kesenjangan akses dan kontrol sumber daya. Hal ini telah mengakibatkan, kelompok rentan seperti anak, lansia, perempuan dan difabel, terpapar pada dampak bencana yang lebih tinggi dalam berbagai bentuknya: jatuhnya korban dari kelompok rentan, ketiadaan pemenuhan kebutuhan khusus, keterpinggiran dalam pengambilan keputusan, dan ketiadaan perlindungan yang memadai akan hak-haknya. Data dan statistik kebencanaan mengkonfirmasi berbagai bentuk kerentanan berbasis gender di beragam konteks yang di hadapi kelompok rentan ini. Walau begitu, konstruksi gender yang ada, juga bisa menjadikan kelompok arus utama seperti laki-laki, bisa dihadapkan pada berbagai bentuk risiko bencana. Maskulinitas telah menjadikan laki-laki dituntut untuk berada pada garis terdepan penanganan bencana, harus mengambil risiko, dan menjadikan keterpaparan bencana yang tinggi. Pengalaman erupsi Merapi 2010 dimana lebih banyak laki-laki yang menjadi korban jiwa menunjukkan kondisi ini.

Namun demikian, pengalaman berbagai bencana juga menunjukkan, keterpaparan dan keterbatasan tidaklah menghalangi kelompok rentan untuk memulihkan kehidupan paska bencana. Daya hidup dan kelentingan yang mereka miliki, adalah bagian yang tidak terpisahkan, dari upaya komunitas untuk memastikan hidup terus berjalan. Transformasi dari korban yang pasif menjadi pihak yang aktif dalam penanggulangan bencana, tergambar dari keberadaan dapur umum, peran kunci perempuan melalui kader kesehatan dalam pendataan dan perawatan korban, hingga keterlibatan dalam pengelolaan dan manajemen bantuan di berbagai level. Tak salah, bilamana pengakuan akan berbagai bentuk kapasitas kelompok rentan ini juga disuarakan berbagai pihak, sebagaimana nampak dalam tema Peringatan Hari Pengurangan Risiko Bencana Dunia tahun 2012 yang berfokus pada gagasan mendorong partisipasi perempuan dan anak perempuan dalam PRB. Pengakuan dan promosi ini sedemikian pentingnya, karena perhatian yang hanya berfokus pada aspek kerentanan, bisa mengabaikan ataupun melemahkan kapasitas kelompok rentan yang sudah ada dan perlu diperkuat.

Memang muncul pertanyaan, seberapa jauh keagenan perempuan telah menemukan bentuknya dalam penanggulangan bencana ini. Hal ini mengemuka karena secara umum, keagenan perempuan cenderung bersifat informal dan sporadis. Atau, bagaimanakah mengkerangkai keagenan kelompok rentan bersama dengan kelompok arus utama (seperti laki-laki) dalam penanggulangan bencana?

Bagi yang berminat silahkan Download di sini : Buku Menolak Pasrah