Negara tanpa warga

Negara tanpa warga

BUKU ini bukanlah sekedar hasil analisa yang dilakukan terhadap setumpuk dokumen dan kebijakan, sederet catatan hasil wawancara ataupun juga review terhadap berita media massa. Buku ini juga bukan hasil dari proses analisa ilmiah yang berjarak dan kering dari pergulatan sosial politik, ataupun hanya diletakkan sebagai bagian dari upaya mengejar target dan mimbar akademis semata.

Tentu saja serangkaian metodologi ilmiah – melalui triangulasi, penggalian dan pemanfaatan data yang akurat – menjadi bagian dari proses riset yang menghasilkan buku ini, namun, buku ini lebih daripada itu. Buku ini adalah bagian dan sekaligus merekam proses penguatan dan advokasi untuk mendorong kesejahteraan dan pemenuhan hak kelompok-kelompok yang terpinggirkan dalam kebijakan di tingkat daerah.

Proses ini terangkai sejak awal 2011, ketika obrolan seputar kesejahteraan dan peran negara diinisiasi oleh Aksara di Kabupaten Semarang dengan beberapa komunitas buruh migran lokal –istilah yang kami pakai untuk menggambarkan mereka yang bermigrasi antar daerah atas berbagai alasan termasuk alasan ekonomi. Dialog-dialog yang spontan, yang bercampur antara kegalauan atau yang berwarna protes, dan juga apatisme yang kuat mewarnai proses pada fase-fase awal. Obrolan yang kami bangun sebagai bagian dari upaya menghadirkan wacana kewargaan (citizenship) dalam harian kehidupan buruh, pada fase awal bukanlah proses yang mudah. Terpatri dalam posisi absennya negara, kehidupan seputar buruh lebih didominasi dengan wacana warga perusahaan yang membuat negara hampir tidak punya peran dan tidak terbayangkan.

Adalah tantangan bagi Aksara untuk mengembangkan pendekatan, metode, alat bantu dan pilihan-pilihan taktis yang lain dalam situasi seperti di atas. Meyakini bahwa adalah krusial mendudukkan konsep warga negara sebagai basis untuk mendesak pemenuhan hak (claiming rights), metode-metode alternatif mulai dari penguatan organisasi kewargaan, edukasi kritis, membangun dialog dengan pejabat politik kunci hingga penggunaan media-media serupa komik dan film adalah bagian yang mewarnai petajalan penguatan hak buruh migran lokal yang kami lakukan ini. Catatan atas proses-proses inilah yang terekam dalam buku riset aksi ini.

Yang juga menarik, proses finishing buku ini dilakukan bersamaan dengan keberhasilan gerakan buruh yang berhasil mendorong pengesahan UU BPJS yang akan menandai babak baru jaminan sosial bagi buruh di Indonesia. Dalam semangat yang sama, kami berharap buku ini menyumbang bagi gagasan dan upaya penguatan dan pemenuhan hak buruh dimanapun berada.

Tentu saja, kami berhutang kepada teman-teman komunitas di Kecamatan Bawen (Paguyuban Pekerja Terminal Bawen), Kecamatan Pringapus (Komunitas Pelangi) dan Kecamatan Bregas (Komunitas Kembar) yang menjadi kawan belajar utama dalam proses ini. Dan karenanya, kepada merekalah buku ini kami dedikasikan. Aksara juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada teman-teman yang menjadi tim penulis buku ini : Hasrul Hanif, Sutrisno Budiharto dan Dati Fatimah. Tak lupa, proses ini tidak akan mungkin dilakukan tanpa kerja keras Aminatun Zubaedah selaku Manajer Program yang mengawinkan rangkaian proses dikomunitas, aktivitas riset dan kampanye maupun juga advokasi dan lobby yang dilakukan. Juga tak akan mungkin cerita ini bisa dirangkai tanpa peran Simbah Wakid dan Susilo Budhi S yang menemani proses pembelajaran komunitas bersama Ari dan Rima di Semarang. Tanpa mereka, sulit membayangkan buku ini akan hadir ke depan sidang pembaca.